Orang tua dan anak
dilahirkan dan dibesarkan pada zaman yang berbeda. Konsekuensinya mereka pun
mengalami proses menghadapi problem yang berbeda. Tantangan seiring perubahan
zamanpun semakin tak terbendung. Problem dan tantangan yang lebih disebabkan
oleh perkembangan teknologi dalam perbedaan generasi, nyaris selalu memisahkan
cara bersikap orang tua dan anak pada dua kutub yang berbeda. Apakah kita sebagai orang tua sudah yakin
bahwa kita telah berada di alur yang benar untuk mempersiapkan anak mandiri
pada zamannya dengan tantangan yang akan dihadapinya?...
Itulah yang mendorong saya ingin sekali ikutan workshop The Urban Mama Modern Mama 2016: Raising Children Who Think For Themselves di Sabtu 2 April 2016 nanti. Sudah tak sabar ingin menggali ilmu dari Ibu Elly Risman,MPSi dan Pak Adhitia Mulya. Walau berkali-kali ikut workshop Ibu Elly Risman, saya tak pernah bosan. Saya butuh ulasan tajam beliau yang tanpa tedeng aling-aling untuk melecutkan semangat saya sebagai orang tua.
Sudut
Pandang Kemandirian
Sebagai orang tua,
saya sangat tersentuh dengan kisah Prof. Rhenald Kasali dalam kuliah online nya di sebuah situs internet. Dalam kuliah bertajuk “ Self Driving: Are You a Driver or a Passenger?”, Prof. Rhenald Kasali
menceritakan kegagalan orang tua kaum menengah yang sekarang anak-anaknya
berusia sekitar 17 tahun dan mulai mengecap bangku kuliah di perguruan tinggi
ternama di Indonesia. Anak-anak yang
biasa dicukupi orang tuanya itu, ternyata jauh dari mental mandiri. Selain
tidak berani membuat keputusan bagi dirinya sendiri, mereka sebagian besar juga
merasa takut ketika harus melakukan hal-hal baru tanpa bantuan orang tua.
Menurutnya ini menyedihkan, karena usia mereka sudah dewasa. Seharusnya, mereka
sudah memiliki keinginan-keinginan yang sedianya diperjuangkan untuk
diwujudkan, bukan lagi bertanya pada orang tua dan berkata terserah kata mama
atau papa.
Prof. Rhenald
mengungkapkan bahwa mental “passenger”
masih kental di kalangan anak golongan menengah, dibandingkan mental “driver”.
Mereka cenderung menjadi pengikut yang tidak terlatih untuk bermental
mandiri. Salahkan jika beliau mengatakan
bahwa ini adalah kegagalan orang tua?... Saya pikir tidak salah. Benar mungkin ada pengaruh dari sistem
pendidikan nasional dan sistem sosial di Indonesia yang turut mempengaruhi sempurnanya
kegagalan ini. Tapi kenyataan yang
terjadi ini pertama-tama membuka khasanah berpikir saya sebagai orang tua.
Bagaimanapun, kunci
pertama pendidikan dan pengasuhan anak ada pada orang tua. Apakah kita sudah
memiliki mindset kemandirian dalam
mengasuh dan mendidik anak-anak kita ketika mereka kita lahirkan ke dunia?
Ingatkah kita, seberapa tega kita melepas anak-anak ketika belajar berjalan di
usianya yang menjelang satu tahun?... Seberapa tegar kita menanamkan kepada
anak-anak untuk menyelesaikan PR nya masing-masing, makan sendiri walau
berlepotan, dan ikut serta dalam pekerjaan rumah tangga?....
Kita orang tua, harus
jujur, bahwa kadangkala kita sediri yang memasang barrier ketika anak belajar untuk menyelesaikan persoalannya
sendiri. Kita sering tidak sabar dan tidak tega. Kita menginginkan anak yang mandiri, tetapi
kita sering lupa bahwa kemandirian itu tidak datang dengan sendirinya. Mandiri adalah skill yang harus dilatih.
Konsep kemandirian itu pula harus ditanamkan oleh kita orang tuanya
sedini mungkin. Berangkat dari itu
semua, sebagai orang tua saya ingin menggali dan mempraktikkan agar anak-anak
kelak tidak bermental pengikut saja, seperti kenyataannya terjadi di generasi
saat ini yang dikemukakan Prof Rhenald.
Mandiri
Sesuai Usia
![]() |
Membiasakan anak balita makan sendiri merupakan latihan kemandirian yang paling sederhana |
Anak yang mandiri
artinya anak yang mampu untuk melakukan sendiri hal-hal sesuai dengan kapasitas
perkembangan psikomotorik nya tanpa dibantu orang tuanya atau orang lain. Jadi, kemandirian anak tidak dapat
disamaratakan. Tiap-tiap tahap
perkembangan usia anak, ada hal-hal yang dalam cakupan wajar seharusnya sudah
bisa dilakukan sendiri oleh anak-anak tanpa bantuan orang tua.
Anak-anak usia 4 -5 tahun
sudah ada yang terlatih untuk pergi dan pulang sekolah tanpa diantar orang tua. Mereka ikut kendaraan antar jemput sekolah dan
mengikuti kegiatan di sekolah sampai selesai tanpa minta ditunggui orang
tuanya. Tapi ada juga yang masih menangis dan harus ditunggui orang tua sampai
waktunya pulang sekolah. Di usia ini ada anak yang sudah bisa makan sendiri,
ada pula yang masih disuapi oleh orang tua atau pengasuhnya.
Pada usia balita,
kita tidak bisa serta merta mengatakan anak kita mandiri atau tidak
mandiri. Karena pada masa inilah
kemandirian itu sedang seharusnya intens ditanamkan dan dilatih untuk
dilakukan. Anak-anak usia balita masih membutuhkan kasih sayang dalam bentuk
pelukan dan ciuman serta kehadiran fisik yang sangat berarti. Mereka masih
sangat senang bermain. Jadi, konsep
kemandirian pun seharusnya kita tanamkan dalam kerangka kasih sayang dan
bermain.
Jangan pernah
berharap anak mau berlatih mandiri ketika kita orang tuanya justru terlalu
keras atau terlalu lembek. Kuncinya ada di kasih sayang dan bermain, yang
dikomunikasikan dengan berkesinambungan dari waktu ke waktu, seiring usia anak. Kita orang tua sering terlalu sibuk dalam
pekerjaan hingga larut malam sehingga memeluk anakpun lupa. Ketika kita sadar, anak sudah terlanjur
besar. Dia tak mau lagi dipeluk. Tapi konsep mandiri pun belum tertanam. Jadilah anak kita besar tapi tak berhati
besar. Jadilah dia berbadan kuat tapi
tak bermental kuat. Dan jangan menyesal
ketika di usia 17 tahun anak kita pun tidak punya keberanian untuk memilih
jurusan di PTN mana untuk kelanjutan studinya.
Berlatih
dan Komunikasi
Berlatih mandiri dapat
dimulai sejak balita. Membiarkan anak
kita merasakan sakitnya jatuh saat naik sepeda, capeknya membereskan mainan dan
alat-alat setelah digunakan, dan membiasakan makan serta pakai baju sendiri
adalah latihan sederhana yang bisa dilakukan.
Memang mudah
diucapkan, tetapi pelaksanaannya tak segampang itu. Bagi ibu yang bekerja di luar rumah, kadang
kita tidak dapat mengontrol apakah pengasuh anak sudah melaksanakan konsep
mandiri yang kita ajarkan. Belum lagi
jika ada nenek kakek yang cenderung memberikan pengaruh juga pada pola
pengasuhan.
Namun, itulah
dinamika. Itulah letak tantangannya bagi
orang tua. Apakah kita akan
menyerah?.... Setidaknya kita akan berdamai dengan kenyataan dan tetap berusaha
menjalankan strategi agar kemandirian dapat ditanamkan. Berdasarkan pengalaman saya, anak-anak ketika
ditinggal ibunya bekerja justru bersikap lebih mandiri ketimbang ketika mereka
bersama-sama orang tuanya. Saya sering bertanya kepada pengasuh anak-anak,
bagaimana keseharian anak-anak ketika saya tinggal bekerja. Jawabannya sungguh di luar perkiraan
saya. Anak-anak kadang berinisiatif
mandi sendiri, makan sendiri, membereskan mainan sendiri, bahkan pergi sholat
tanpa disuruh. Para pengasuh mengatakan, mereka tak pernah direpotkan oleh
anak-anak. Anak-anak bersikap baik dan
tertib. Kalaupun rusuh, dalam hal wajar
saja. Mereka makan apapun yang dimasak,
seperti pesan ibu sebelum berangkat kerja.
Kalaupun mereka menginginkan sesuatu, mereka lekas menelpon saya.
![]() |
Latihan mandiri usia balita dengan belajar mencuci tangan tanpa dibantu |
Jadi, secara natural,
anak-anak memiliki kemampuan untuk survive
saat tidak bersama orang tuanya. Di sinilah poin utama untuk kita
manfaatkan dalam mengembangkan kemandirian.
Ajaklah pengasuh untuk memahami pola pengasuhan yang kita harapkan,
bicarakan baik-baik. Jadikan para
pengasuh sebagai perpanjangan tangan kita dalam melatih kemandirian anak ketika
kita tidak bersama-sama anak. Ketika
kita pulang bekerja, segera tunjukkan keterlibatan fisik kita dengan anak-anak,
agar mereka merasa disayang dan diperhatikan.
Minimalkan konflik dengan kakek nenek dengan cara memberikan pengertian
bahwa melatih mandiri itu kelak untuk kebahagiaan cucu mereka sendiri.
Kita sebagai orang
tua harus memiliki keyakinan bahwa melatih kemandirian akan membuahkan hasil
jika dilakukan berkesinambungan, tanpa jeda.
Komunikasi yang efektif dengan anak-anak mutlak dibutuhkan. Komunikasi
yang efektif adalah komunikasi yang tidak mengarahkan, tidak menghakimi, tidak
bertendensi apapun kepada anak.
Komunikasi efektif hanyalah mengetahui apa yang dirasakan anak-anak dan
membuat anak-anak merasa dipahami akan perasaan yang dirasakannya itu.
Rasanya tak ada yang
mudah dalam dinamika ini. Tetapi mengingat
tugas pengasuhan yang utama adalah tugas orang tua, tidak ada alasan kita untuk
mundur atau mendelegasikan seluruhnya pada sekolah atau pengasuh. Kita semua ingin anak-anak kita mampu
menghadapi tantangan di zamannya kelak.
Itu harus dilatih sejak kecil.
Kita orang tua, adalah pelatih utamanya.
Yang lain adalah perpanjangan tangan orang tua. Ayo kita semangat, dan jangan mudah
menyerah. Marilah kita bercermin,
semandiri apakah kita....sebaik apa komunikasi kita dengan anak....dan sudah pantaskah kita para orang tua menjadi
pelatih utama.... apakah yang harus kita perbaiki dalam konsep kemandirian....
dan mana langkah yang terlanjur salah.....
Tidak ada kata terlambat karena terlambat jauh lebih baik daripada tidak
sama sekali. Menyerah artinya
menghancurkan masa depan generasi. Jadi,
jangan menyerah!!!!
**tulisan ini semata-mata pemikiran spontan saya sebagai orang tua, tidak dilatarbelakangi oleh ilmu psikologi apalagi penelitian. semata-mata dituliskan untuk melecutkan semangat orang tua, bahwa kadang ada yang salah dalam pola pengasuhan kita, namun jika kita mau belajar dan menggali ilmu dari ahlinya, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. jangan malu jadi orang tua pembelajar. jangan malu ketika kita salah. tapi malulah jika kita tidak punya upaya untuk memperbaiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar