Jumat, 05 Desember 2014

Perempuan 35 Tahun Rawan Selingkuh?

Selingkuh tak pernah mengenal siapa dan di mana. Laki-laki maupun perempuan. Walau perempuan kelihatannya lebih sulit untuk memulai, namun justru lebih mudah untuk mengundang. Terutama untuk para perempuan berusia sekitar 35 tahun, nampaknya sinyal rawan patut anda perhatikan baik-baik. Seringkali, semua berawal dari sesuatu yang dinilai “biasa” dan tanpa disadari.

Kenapa perempuan 35 tahun rawan selingkuh? Baiklah kita analisa. Istri, usia 35 tahun, bekerja di kantor dengan jabatan melampaui middle management, biasanya telah melewati masa sulit dalam pekerjaannya, dan memperoleh pencapaian yang tidak sedikit. Dalam keluarga, perempuan karier seusia ini biasanya telah melahirkan dua sampai tiga kali, dan anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan antara balita hingga menjelang ABG (Anak Baru Gede). Bisa dibilang, di usia ini perempuan berada dalam kondisi mapan, baik keuangan, karier, dan keluarga. Besar kemungkinan, pasangan (suami) juga dalam kondisi karier yang setara atau bahkan lebih maju dari istrinya.

Namun, jangan salah….. kondisi mapan ini justru menjadi bumerang. Sang perempuan, yang nampaknya telah memiliki segala yang didambakan oleh perempuan masa kini, bisa terjebak dalam sebuah perselingkuhan. Perempuan di usia 35, cenderung menjadi lebih”centil”. Dalam arti, ia lebih memperhatikan penampilan dan memoles diri. Didukung dengan keuangan yang memadai untuk beragam perawatan wajah dan tubuh, mereka mampu menyulap penampilan menjadi lebih segar, muda dan menarik. Dipadukan dengan kematangan emosi dan hormonal, mereka tampil menjadi wanita dewasa yang smart, menarik, memancarkan aura positif, full of passion, dan mandiri sehingga tidak sedikit memikat laki-laki di sekelilingnya.

Jenis laki-laki yang terpikat, berdasarkan pengamatan saya adalah mereka yang terdera kebosanan tingkat tinggi dalam keluaga akibat istri yang “ngga nyambung” karena perbedaan level pendidikan atau sosial. Jenis lainnya, adalah pria yang tiba-tiba menemukan kedewasaan dan kematangan yang selama ini dicari namun tak pernah didapatkan dalam figur istri. Namun bisa jadi juga para suami yang memiliki istri yang sedemikian sempurnanya namun tidak sehangat dan sepositif si 35 yang dikenalnya ini. Memang, rumput tetangga selalu nampak lebih subur dan hijau ya… Semua itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk para pria boleh berselingkuh tentunya. Namun, demikianlah kenyataannya yang terjadi.
Si 35 tak bisa juga disalahkan sebagai penyebab perselingkuhan, karena secara natural mungkin semua perempuan dalam kategori ini akan bergerak ke arah yang sama. Menampilkan diri sebagai perempuan karier yang pandai merawat diri, smart, begairah, penuh perhatian dan beraura positif. Demikian juga para lelaki yang terpikat, mereka secara natural juga mungkin tidak secara sengaja melakukan niat berselingkuh. Namun, fenomenanya adalah bahwa kejadian dimulai dari kedekatan sebagai teman atau sahabat antara si lelaki dengan si 35 karena merasakan ada yang klop. Sayangnya, si 35 kerap tak menyadari bahwa kedekatan ini awalnya karena “undangan” darinya.

Kesempatan untuk membina kedekatan antara si 35 dengan lelaki yang terpikat dengannya menjadi semakin besar karena tanpa disadari keduanya semakin lama semakin menemukan pengisi kekosongan yang mudah dan nyaris tanpa halangan.Kenapa lelaki justru terpikat pada si 35 dan bukan pada wanita usia sekitar 28 sampai 30 tahun yang secara fisik kebanyakan jauh lebih menarik?

Perselingkuhan semata-mata bukan soal fisik, namun lebih pada emosional. Laki-laki sebagai pihak yang sering melihat kesempatan sebagai berkah, lebih memilih si 35 karena selain mendapatkan apa yang diinginkannya, ia tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Si 35 sangat mandiri dalam keuangan dan tidak menuntut macam-macam selain berterima kasih. Ketika si 35 mendapatkan pengakuan atas pencapaiannya dari laki-laki lain yang bukan suaminya, pada saat itulah kedekatan fisik dan emosi yang mengarah pada perselingkuhan akan dimulai. Itu sebabnya saya berpendapat, perempuan usia 35 tahun rawan selingkuh.

Tidak ada satupun pembenaran untuk melakukan selingkuh. Saya pikir, semua pasangan yang berkomitmen untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah menyetujui pendapat saya itu. Namun, istri dan suami perlu waspada bahwa bibit selingkuh itu bukanlah hal yang kasat mata, sering tak disadari bahkan setelah perselingkuhan itu melewati tahap introduction…Ibaratnya kalau membaca buku, bab pendahuluannya sudah lewat, sudah masuk ke bab-bab isi, tapi belum menyadari bahwa selingkuh itu telah terjadi.. Ia lebih pada nilai emosi yang tidak terpenuhi dan tidak disadari sejak awal lalu menenui pipa penyaluran yang salah. Kuncinya hanyalah memperbaiki komunikasi verbal dan nonverbal antara suami istri, membuang ego ke jurang terdalam, dan memposisikan peran suami istri pada tempatnya.

Tidak ada jalan lain bagi si 35 untuk selalu introspeksi, dari waktu ke waktu, menyadari bahwa keberadaan dirinya perlu diseimbangkan dengan kesadaran bahwa dia adalah ibu bagi anak-anak, istri bagi suami, dan perempuan yang menunaikan tanggung jawab sosial pada lingkungannya. Iman setipis kulit bawangpun rasanya tak pernah mengijinkan sebuah kedekatan berkembang menjadi perselingkuhan yang selalu membawa kepedihan pada akhirnya.

Sekarang, anda si 35 punya pilihan, di titik rawan anda mau bagaimana?… Saya hanya sekedar memberikan inspirasi dan ilustrasi……..



**ditulis berdasarkan opini dan pengamatan pribadi penulis.  Jika sepaham, agar dapat diambil manfaatnya.  Jika tidak sependapat, harap diabaikan saja tulisan ini.  :)

Kamis, 04 Desember 2014

Perempuan dan Pembaruan Diri

"Pembaruan nyata-nyata bukan sama sekali pembentukan sesuatu yang benar-benar baru. Ia lebih pada sebuah bentuk transformasi dengan perangkat yang lebih lengkap dan siap dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata."

Yup! Sebuah pembaruan memang seperti itu. Sebuah bentukan hasil perubahan yang merupakan tuntutan dalam menghadapi hidup yang lebih berkualitas. Pada satu titik tertentu, pembaruan mau tak mau harus terjadi pada diri perempuan  untuk meningkatkan kualitas hidup dan perannya dalam keluarga maupun masyarakat. Di titik manakah itu?… Apakah semua perempuan  dapat memilih untuk melakukan pembaruan diri atau tidak?…. Sebelum menjawabnya, marilah sejenak kita para perempuan  belajar dari pembaruan diri yang terjadi pada ELANG.

Elang dikenal sebagai burung pemangsa berukuran besar, memiliki kemampuan terbang yang kuat, sayap yang lebar, paruh yang besar dan tajam, serta kuku yang kuat. Elang juga memiliki penglihatan tajam untuk melihat mangsa dari jarak yang jauh. Elang dikenal mampu membuat sarang di ketinggian. Padahal semua tahu bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang.
Di sisi lain, elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua. Paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: sekarat menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan sepanjang 150 hari.


Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung. Di sana elang kemudian membuat sarang di tepi jurang. Ia berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung.


Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya. Kemudian sang elang berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya yang sudah tua. Ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Ini menjadi suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali setelah proses menyakitkan selama 5 bulan dilaluinya. Kini elang siap untuk hidup 30 tahun lagi dengan cakar yang kuat, paruh yang baru, dan bulu-bulu yang memungkinkannya untuk terbang mengepak sayap di ketinggian angkasa.

Semua elang melakukan proses pembaruan ini. Mereka para elang tidak mau hanya hidup selama 40 tahun. Elang tanpa berfikir menyorongkan dirinya untuk proses pembaruan diri agar bisa survive di kehidupan sampai 30 tahun ke depan.

Nah, belajar dari proses yang dialami elang, apakah kita para perempuan  yang hari demi hari menghadapi tantangan hidup yang makin besar hanya akan berdiam diri dan menunggu saat sekarat?…. Jawabnya tentu TIDAK. Dan kita para perempuan  tak perlu menunggu sampai berusia 40 tahun untuk melakukan sebuah pembaruan diri. Kita akan melakukannya setiap kali kompetensi kita sudah tidak dapat lagi menjawab tantangan zaman. Proses pembaruan itu sendiri jelas menyakitkan. Perlu pengorbanan. Dan seringkali membuat kita harus pergi dari zona nyaman yang selama ini mengunci kita. Namun, jika tak ingin sekarat dilindas zaman, ayo mari selalu memperbarui diri kita, semangat kita, dan kompetensi kita.

Tantangan bagi para perempuan ?…. Siapa takut?… Karena setiap perempuan  dibekali Tuhan dengan potensi tersendiri, dan para perempuan  dapat memilih untuk melakukan pembaruan diri. Maka perempuan  dapat terbang tinggi setinggi elang. Pastinya….

#diramu dari berbagai sumber, dipublikasikan di rubrik keputrian Majalah Internal BUMN di Jakarta, November 2010.  Namun ibrohnya saya rasa perlu diambil setiap saat bagi perempuan pembaharu. Semangat bundaaaa.......!!!



Rabu, 03 Desember 2014

Keponakan Pak Menteri


SREEEEETTT.....grudug grudug grudug...............sreeeeet. Suara roda koper dorongku yang berisik terdengar sampai ke sepanjang lorong lantai delapan gedung Pusdiklat* ini. Diam-diam aku menciut, sebab hanya koperku yang mengeluarkan suara berisik. Di lantai dasar tadi, sebelum masuk ke lift, aku sempat berpapasan dengan para peserta Diklat** dari seluruh penjuru tanah air, tapi tak satupun koper mereka yang mengeluarkan suara “grudug grudug’ seperti milikku. Kuelus-elus koper tuaku, yang baru pertama kali mengikutiku keluar dari Yogyakarta ke Jakarta....ah tak apa....koper butut bersejarah....warisan kakak tertuaku. Aku belum sanggup membeli yang baru. 

Belum genap empat bulan aku menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Beberapa hari setelah wisuda, sebuah BUMN Expo melakukan rekruitment pegawai secara langsung di kampus. Aku melamar. Serangkaian tes yang panjang kujalani, dan berbuah kelulusan. Walau berat harus meninggalkan kota kelahiranku, tapi kubulatkan tekat untuk mengadu nasib di Jakarta. Kini, aku sudah berdiri di depan pintu kamar no 808. Kamar yang akan kutempati selama dua pekan ke depan, selama menjalani pendidikan dan latihan sebagai pegawai baru. 

Aku berdiri di depan pintu kamar, mencocokkan nomor kamar dengan nomor pada kartu identitas yang kuperoleh saat registrasi ulang di lantai dasar. Benar, kamar no 808. Di pintu itu telah tertempel kertas putih bertuliskan dua nama. Andri Amaranggana NR87358 dan Andri Irfanda NR87359. Oooh rupanya aku akan sekamar dengan Andri Irfanda. Kira-kira, dari mana ia berasal?....Seperti apa orangnya?... Sejenak aku sadari bahwa pintu kamar terbuka sedikit. Oh rupanya roomate-ku sudah tiba lebih dulu. Kuintip ke dalam, sayup terdengar suara musik....genre slow rock. Hooo....kenapa seleranya sama denganku ya?... Aku merasa sedikit terhibur....setidaknya dengan kawan sekamar yang seleranya sama akan membuat hari-hari jadi menyenangkan. 

“Permisii....Halooo...” aku mengucapkan salam sambil masuk ke dalam kamar. Tidak ada suara balasan. Aku terus masuk. Sejenak terpukau dengan bagusnya kamar yang akan kudiami. Jauh berbeda dengan kamar sempitku di Yogya.Lebih mirip dengan kamar hotel bintang lima yang kulihat di brosur-brosur. Hahaha....aku ndeso. Kusandarkan koperku di sudut kamar, lalu berjalan ke arah jendela. Jendela kaca yang besar sepanjang sisi dinding yang menghadap ke jalan raya menarik perhatianku. Tirainya telah digeser ke satu sisi, mungkin rekan sekamarku tadi yang melakukannya ketika ia datang lebih dulu. Dari jendela, aku bisa memandangi fly over (yang belakangan kutahu sebagai fly over Kuningan) dan ruas jalan Jendral Gatot Soebroto dalam kemacetan. Aku tahu nama jalan itu dari pembicaraan orang-orang di lantai dasar tadi. Ini Senin sore menjelang Maghrib, jam tanganku menunjukkan pukul 17.45 Wib.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri....tak ada tanda-tanda rekan sekamarku muncul. Di mana dia?... sebuah koper hitam yang sangat keren menurut ukuranku tersandar di ujung tempat tidur. Itu pasti miliknya. Pelan-pelan aku duduk di pinggir kasur. Wooow...empuuk. Ndeso ku muncul lagi. Tempat tidur ini kutaksir ukuran nomor 1. Cukup lega untuk berdua. Aku merabai seprainya yang berwarna krem, terasa dingin karena AC dipasang 20 derajat Celcius. Kulepaskan kerudung yang menutupi rambutku, menyampirkannya di tepi tempat tidur. Ingin sekali merasakan kenikmatan berbaring di kasur ini barang sebentar, sebelum kembali ke aula di lantai dasar untuk mengikuti kegiatan diklat. 

Sambil bersenandung mengikuti irama lagu yang terdengar, aku menikmati berbaring sejenak. Kucari sumber suara musik itu. Oooo rupanya dari telepon genggam teman sekamarku yang tergeletak di meja belajar. Aku lalu beringsut bangun. Kamar sebagus ini, seperti apakah toiletnya?.. Aku tergerak ingin tahu. Perlahan aku berjalan menuju toilet dan membuka pintunya. Dan ketika pintu itu terbuka, aku ternganga. Pemandangan di dalamnya membuatku harus berteriak histeris, Aaaaaaaaaaaaa...............!!!!! Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!

*********

Setelah teriakan itu usai aku bersegera menutup lagi pintu toilet, lalu berlari ke arah tempat tidur untuk mengenakan kerudungku. Cukup repot, karena dadaku berdegup kencang dan tanganku sedikit bergetar. Aku nyaris tak percaya pada penglihatanku. Tapi, tidak. Ini benar. Yang kulihat di dalam toilet tadi itu adalah seorang laki-laki.Bagaimana mungkin ada laki-laki di kamar ini?..... Kemudian aku sempat mendengar suara flash closet ditekan.Lalu cibang cibung air. Tak sampai dua menit kemudian pintu toilet terbuka dan seorang laki-laki seperempat baya keluar dari sana. 

“Hei, kamu siapa?” lelaki itu bertanya. Dia sama herannya dengan aku. Kalau dia heran kenapa ada perempuan di kamar ini, maka aku heran kenapa ada lelaki di kamar ini?.....

“Lho, kamu siapa?” aku balik bertanya. Kami saling bertatapan. Aku memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lelaki di hadapanku ini berwajah tampan, alisnya tebal, matanya dalam dan hidungnya bangir.Rambutnya hitam legam dengan cambang yang nyaris tersambung hingga ke dagu. Tubuhnya atletis dengan postur tegap, walau tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki. Kulitnya agak gelap.

Lelaki di hadapanku pun memandangiku tak berkedip. Senyum geli tiba-tiba tersungging di bibirnya. Aku kikuk.Kenapa dia geli?.... Dia menunjuk-nunjuk kerudungku. Oh ya tentu saja kerudung ini membuatnya geli. Aku berbalik ke cermin yang terpampang tepat di belakangku berdiri, dan melihat kerudungku terpasang miring kiri miring kanan. Sungguh konyol. Spontan keperbaiki letaknya sehingga terlihat sopan dan rapi. 
“Nah, begitu cantik,” ujar lelaki itu sambil tersenyum. Kali ini bukan senyum geli, tapi senyum yang lebih ramah. 

Aku tak bergeming. Masih heran dengan keberadaannya. Lelaki itu lalu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Aku menyambut salamnya. Walaupun guru mengajiku waktu SMP melarangku bersalaman dengan lawan jenis, tapi guru mengajiku ketika aku SMA bilang aku boleh bersalaman dengan lawan jenis asalkan tidak ada rasa berdesir di dada. Aku mengamati perasaanku, ah rasanya biasa saja, tidak ada desir. Kami bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. 

“Andri,” kataku.
“Andri, ” katanya.
Aku dan dia sama-sama terkejut. 
“Aku Andri Amaranggana,” kataku menyebutkan nama lengkapku.
“Aku Andri Irfanda,” ujarnya menyebut nama panjangnya. 
Aku dan dia kembali terkejut. Jeda diam beberapa detik. Lalu kami berdua sama-sama nyengir. Kemudian tertawa geli. 

Terjawab sudah keherananku dan dia kenapa aku dan dia ada di sini. Rupanya namaku terlalu maskulin sehingga aku tersasar di kelompok laki-laki. Mungkin kekeliruan terjadi di administrasi. Wah, jangan-jangan seragam yang akan kudapatkan juga seragam laki-laki?.... 

“Kamu biasa dipanggil Andri juga?” tanyanya. Aku mengangguk. 
“Kamu?” tanyaku datar. 
“Irfan” jawabnya. Masih dengan sisa tawa. 
Kami lalu terlibat percakapan. 

“Kamu dari mana?” tanyaku sambil mengenakan kembali sepatuku. Maksud hatiku, aku ingin segera ke lantai dasar, melaporkan kejadian kesalahan pengelompokan kamar ini kepada panitia penyelenggara Diklat. Malam ini juga harus beres dong, tidak mungkin aku tidur sekamar dengannya. 

“Aku dari Yogya. Kamu?” Irfan menjawab dan balik bertanya.
Aku sedikit terkejut. Oh kami dari kota yang sama! “Sama, aku juga Yogya,” jawabku berdiri dan siap melangkah keluar pintu kamar. Bersamaan dengan itu, kumandang adzan Maghrib terdengar.
“Lho, mau kemana Andri?’ tanya Irfan
“Ke lantai dasar. Lapor lah. Supaya aku dipindah kamar. Mana mungkin aku tidur sekamar denganmu?” jawabku.

“Maghrib begini. Orang-orang di bawah juga pada sholat dulu kali. Mending kita juga sholat dulu yuk,” ajaknya.
Aku urung. Langkahku terhenti di depan pintu kamar. Ada benarnya juga kata Irfan. Aku lalu menurutinya. 
“Silakan wudhu duluan, Andri,” ia mempersilakanku. Aku lalu melangkah ke toilet. Sebelum masuk ke toilet, tiba-tiba aku teringat kejadian tadi. Aku menoleh ke arah Irfan dan tersenyum geli. Irfan kembali tergelak. 
“Hahahaha....sudah jangan diingat-ingat lagi. Hehehe....eh tapi memangnya tadi kamu sempat lihat apa Ndri?” tanyanya.

Aku cuma ketawa geli. Tidak menjawab. Tentu saja tadi aku melihat hal yang sepatutnya tidak kulihat. Wajah Irfan serta merta bersemu merah. Aku memalingkan wajah, ngga enak hati. 
“Tadi juga aku sepertinya melihat kamu tanpa kerudung,” kata Irfan sambil nyengir. Aku terhenyak. “Lihat jelas?” tanyaku. “Jelas sekali, dong. Kamu cantik,” ujarnya. 

Aku bergetar. Dan berdesir. Tiba-tiba aku teringat guru mengajiku ketika SMA. Heeei, aku tak sedang menjabat tangan lelaki itu. Saat ini aku berdesir karena dia bilang aku cantik. Oh tidak..... Cepat-cepat aku istighfar lalu masuk ke toilet untuk berwudhu.

********

Usai yang tiga rakaat itu, aku beringsut menuju pintu. Kaluar. Namun suara Irfan sekali lagi menghalangi
langkahku. 
“Ndri, nih coba lihat jadwal kegiatan. Jam 19.00 wib tepat kita sudah harus berkumpul di aula lantai dasar. Pakai baju putih hitam, lengkap dengan tanda pengenal dan membawa modul 1. Nih, lihat jadwal...” katanya menyodorkan buku panduan yang masing-masing sudah kami dapat tadi sore saat registrasi ulang.

Aku lagi-lagi terhenyak. Jam 19.00 itu artinya tidak lebih dari 45 menit dari sekarang. Sekarang? Kami masing-masing dalam keadaan belum mandi, masih mengenakan pakaian bebas, dan belum makan malam di lantai 9.Acara pembukaan dan modul 1 dijadwalkan sampai pukul 21.30 wib. Pastilah aku akan kelaparan jika tidak makan dan gatal-gatal kalau tak mandi. Rasanya memang hampir tidak mungkin mengurus kekeliruan penempatan kamar ini sekarang. Kepada siapa aku harus melaporpun belum tahu. 

Akhirnya kuputuskan menuruti lagi kata Irfan. Kami akan mandi dan makan malam terlebih dahulu, serta bergegas ke aula lebih awal untuk mencari panitia yang mungkin bisa membantu kami untuk dipisahkan kamar. 
“Kamu mandi duluan gih. Habis dandan kamu langsung keluar,” kataku padanya. Dengan begitu aku berharap bisa bebas di kamar ini. Risih ada lawan jenis, pastinya. Irfan merengut. “Kamu ngusir aku?... ya sudah, aku ngerti. Aku mandi duluan,” katanya mengalah. Good boy, pekikku dalam hati.

Irfan mandi dengan cepat. Ketika keluar dari toilet, ia masih berbalut handuk. Aku menutupkan dua belah tangan ke wajah. “Kenapa ngga pakai baju di dalam toilet sih?” protesku. “Baju putih hitamku cuma kebawa satu pasang.Satu pasang lagi baru mau diantarkan besok pagi, non. Aku ga biasa pakai baju di dalam toilet basah. Kalau baju jatuh dan basah gimana kamu mau tanggung jawab?” Irfan mengelak. “Alesaaaan...” ujarku sambil melengos.

“Hihihi...kalau melengos begitu kok jadi terlihat cantik ya...” Irfan menggoda.
Aku kembli berdesir-desir. Cepat-cepat aku masuk ke toilet untuk mandi. Saking terburu-buru, aku lupa membawa handuk. Baru teringat sementara seluruh pakaian baru saja kutanggalkan. Aku baru akan mengenakan kembali pakaianku untuk keluar mengambil handuk. Risih rasanya kalau berteriak dari dalam sini minta tolong Irfan mengambilkan handukku. Aku urung karena pintu toilet lebih dulu diketuk dari luar. Tok tok tok. “Andri, handukmu ketinggalan nih,” suara Irfan memanggil. 

Aku membuka pintu toilet dan bersegera menerima handuk dari tangannya. “Lho, belum buka baju?... hedeeeh pantesan sih perempuan mandinya lama,” katanya sambil nyengir. Aku melengos saja. Bersegera cibang cibung.Namun, betapa menyebalkan saat keluar dari toilet ternyata Irfan masih duduk duduk di kursi sambil memainkan telepon genggamnya.

“Kita keluar makan ke lantai 9 sama-sama aja yuk. Aku tungguin kamu dandan. Sekalian nanti kita lapornya sama-sama. Oke Andri?” katanya sambil tersenyum. Aku tak punya pilihan. Malas bertengkar dengan orang asing. Ya sudahlah. Kubiarkan Irfan menontonku berdandan. Lalu kami beranjak makan malam bersama 179 pegawai baru di lantai 9. Kami duduk satu meja dan berkenalan dengan beberapa teman baru. Saking asiknya bertemu teman-teman baru, kami lupa untuk melaporkan masalah kami. Tahu-tahu jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib dan kami sudah harus hadir di aula untuk pembukaan dan modul 1. 

*************

Penjelasan modul 1 tengah berlangsung di aula.
“Andri, kamu udah lama kenal sama cowok itu?” Syifa –rekan dari Ambon bertanya padaku berbisik-bisik di tengah penjelasan modul1. Syifa duduk persis di sebelahku.
“Irfan?...Oh baru tadi sore. Baru kenal. Kenapa?” tanyaku pelan.
“Kelihatannya sudah akrab, hehehe. Kukira kamu masih saudaranya. Namamu kan sama Andri. Kukira kamu juga keponakan Pak Menteri.” 
“Maksudnya?”
“Andri Irfanda itu keponakannya Menteri. Kamu belum tahu?... Kayaknya dia masuk tanpa tes deh. Tapi memang anaknya pinter sih.”
“Serius?”
Syifa mengangguk tegas. Lalu kembali pura-pura serius mendengarkan penjelasan modul 1. 
Aku terbengong-bengong sendiri.

**********
Pluk. Segumpal kertas jatuh di atas mejaku. Aku menoleh ke belakang, asal lemparan kertas itu. Wajah-wajah serius tak satupun bergeming. Syifa yang duduk disebelahku berbisik, “Keponakan Pak Menteri yang melempar kertas itu, Ndri.” 

Aku membuka gumpalan kertas itu, dan membaca isinya. “Andri, masalah kamar sudah beres. Kamu tetap tinggal di 808. Aku yang cao. Sehabis sessi modul 1 dan kembali ke kamar, baca pesanku di atas tempat tidur ya.... See u.” Aku diam sejenak. Kok bisa?... 
Ketika aku menoleh ke belakang, aku sempat melihat sosok Irfan berjalan keluar ruangan aula. Di depan pintu keluar ia berbicara dengan petugas, lalu tak kulihatnya lagi dia di situ. 

Sessi modul 1 selesai tepat pukul 21.30 wib. Aku kembali ke kamar 808. Di sepanjang lorong menuju kamar, teman-teman baru riang berceloteh. Tak hirau akan kantuk dan lelah. Aku mendapati dadaku berdegup saat memasuki kamar yang kosong. Selembar kertas di tempat tidur segera kuraih. Pesan dari Irfan.

Andri, aku pamit ya. Aku pergi. Kamu mungkin akan sendirian di kamar ini sampai diklat selesai. Tadi aku sudah menghubungi panitia via telepon dan mereka sudah minta maaf atas keteledoran memasukkan namamu ke kelompok laki-laki. Baik-baiklah di sini. Aku mengundurkan diri. Sebenernya keberadaanku di sini pun bukan kemauanku. Orang tua dan pamanku yang memberikan semua fasilitas dan kemudahan untuk bisa di sini tanpa tes. Tapi, aku tidak menginginkannya, tepatnya aku ingin memilih sendiri pekerjaan yang lebih pas untukku. Tapi, syukurlah aku sempat di sini sejenak...karenanya bisa berkenalan denganmu. Maaf aku meminta nomor teleponmu dari panitia, ini nomorku 081xxxxxxxxxxx. Kalau kamu tidak keberatan, besok siang jam istirahat aku ingin meneleponmu. Tolong kirimkan pesan setuju jika kamu berkenan. Aku sangat berharap kita bisa berkenalan lebih jauh. Aku di Jakarta. Tak jauh darimu. Salam. Irfan.”

Aku tergugu. Benar kata Syifa. Dia keponakan Pak Menteri. Lalu, apa ?... Apakah karena dia keponakan orang penting di negeri ini, lalu aku jadi gimana-gimana gitu?... Tidak, masalahnya bukan karena di keponakan siapa, masalahnya adalah...... 

Aku meraih telepon genggamku. Nomor Irfan kurekam baik-baik. Dengan segala pertimbangan aku tidak bersegera mengirimkan kata setuju malam itu. Menurutku, akan lebih baik jika pesan itu kukirim esok pagi. Kusimpan kertas pesan Irfan baik-baik. Aku sempat membersihkan diri dan menyiapkan keperluan modul esok pagi sebelum membaringkan tubuh lelahku di kasur. Belum sempat mataku terpejam, telepon genggamku berdering. Nama “Andri Irfanda” tertera di layar, dan mataku serta merta terang benderang.

“Halo...asslamualaikum....”
“Halo, Andri.... maaf ya kutelepon malam-malam. Belum tidur kan?”
“Hampir.... ada apa?” 
“Sudah baca pesanku?”
“Sudah....”
“Oke, thx. Kok ngga balik kirim pesan?..”
“ Aku kuatir ngga sopan, sudah malam. Besok pagi saja.”
“Oooh....sori ya, aku ngga sabaran. Besok siang jam stirahat, berkenan sediakan waktu setengah jam buat ngobrol?”
“Setengah jam?....Pulsamu ngga habis tuh nanti?”
Suara tawa di ujung sana. Hatiku berbunga-bunga.
“Sudah ya Irfan, aku mau istirahat. Besok pagi takut kesiangan.”
“Oke, maaf ya.... sampai jumpa esok siang.”

Setelah mengucap salam, aku menutup percakapan. Segudang tanya di benakku. Di mana dia?... Akan bekerja apa dia selanjutnya?... Kenapa dia ingin berkenalan lebih jauh denganku?... Apakah perasaan berdesir di hatiku juga sama dia rasakan ya?.... Kuurungkan menanyakan itu semua tadi. Aku mengerem semua yang ingin kuketahui tentangnya. Aku memilih berdoa dan memejamkan mata. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku tertidur dengan hati berbunga-bunga dan harapan yang bersemi di dalam mimpi................ 

*Pusdiklat: Pusat Pendidikan dan Pelatihan
**Diklat: Pendidikan dan Latihan

Depok, 6 Juni 2013.
**Cerita pendek ini ditulis sebagai selingan "switch" pikiran dari rutinitas sehari-hari.  Juga diposting tahun lalu di blog lama saya www.kompasiana.com/novi.ardiani yang berisi lebih beragam tulisan.

Mensyukuri Hidup, Menghidupkan Syukur

Rasa syukur itu jauh lebih indah dan sejuk dibandingkan semua keindahan duniawi yang tampak di depan mata.Saya pikir ungkapan itu tidak berlebihan. Saat kita mampu merasakan syukur, pada saat itulah ucapan-ucapan nyinyir di kanan kiri terdengar seperti pelecut semangat yang membuat diri semakin melejit untuk ihktiar. Bukankah indah dan sejuk, ketika syukur yang terucap dan terasa itu mampu membuat kita tersenyum tulus, sehingga menebarkan aura positif terhadap orang-orang di sekitar kita? 

Bagi saya tidak mudah untuk mensyukuri hidup, dan menghidupkan rasa syukur itu dalam diri saya. Apalagi menularkannya kepada orang-orang terdekat. Namun beberapa peristiwa kecil yang menyentuh membuat saya akhirnya mulai belajar untuk lebih mengikatkan rasa syukur itu dan menghidupkannya dalam setiap aspek kehidupan yang saya jalani. 

Semua bermula dari curhatan seorang rekan kerja di kantor yang merasa kewalahan karena suaminya enggan turut andil dalam pekerjaan rumah tangga. Sebagai perempuan pekerja, ia hampir menyerah karena hampir tak tersisa waktu dan pikiran untuk dirinya sendiri. Ujungnya, dia jenuh dan merasa tidak dihargai. Bahkan mulai berkurang perhatiannya kepada pasangan, dan mencari sosok lain untuk pengalihan. Saya tidak langsung menyalahkannya atau membelanya. Saya hanya mendengarkannya dan berusaha berempati. Saya tahu dan mengenalnya sebagai sosok pekerja yang bertanggung jawab. Tiba-tiba saja saya lalu tergelitik untuk melihat ke dalam diri saya sendiri. 

Saya lalu berusaha mengingat, berapa kali saya harus minta tolong kepada suami untuk membantu pekerjaan rumah tangga?... Nyaris tidak pernah. Sebelum saya minta tolong, suami saya sudah lebih dulu mengambil sapu dan pel. Bahkan dia sudah mencuci piring sebelum saya selesai sholat subuh. Berapa kali saya harus minta tolong kepada suami untuk mengasuh anak-anak ketika saya berada dalam kondisi multitasking?.... Sejujurnya hampir tidak pernah. Sebelum saya minta tolong, suami saya sudah lebih dulu menghandle kedua balita kami dengan kesabaran yang luar biasa. Berapa kali suami saya menolak ketika saya minta ijin untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang menjadi passion dalam hidup saya... seperti lomba-lomba menulis, menjadi relawan kegiatan sosial, dan rajin menjadi pembawa acara di berbagai kegiatan. Sepertinya hampir tidak pernah. Bahkan dengan wajah teduhnya, suami saya seperti berkata, “Berkaryalah..... aku bangga padamu.” 

Pernah suatu waktu saya berhasil masuk final untuk sebuah lomba inovasi, dan diharuskan membuat video pendek yang memaparkan ide inovasi itu. Dengan semangat, suami saya menunggu sampai saya pulang kuliah (ketika itu saya sedang menjalani kuliah pascasarjana, juga atas dukungan suami saya), menyiapkan setting di ruang tamu rumah mungil kami, dan mempersiapkan kamera layaknya videografer. Ketika anak-anak sudah tidur, beliau meminta saya tampil senatural mungkin menyampaikan ide inovasi itu. Saya yang mulanya tidak begitu percaya diri dengan apa yang saya jalani, menjadi semangat dan terpacu. Walau akhirnya tidak menjadi juara satu, bagi kami bukan masalah.

Saya pun ingat bagaimana dukungan yang diberikannya kepada saya hingga dapat melanjutkan pendidikan dengan beasiswa. Dukungan yang diberikan suami saya bukan dalam bentuk kata-kata,”Aku mendukungmu”.Beliau tidak pernah mengatakan itu. Beliau hanya siap menghandle anak-anak ketika saya harus ujian di hari Sabtu, atau mengalami pergeseran jam kuliah di malam hari sehingga beliau merelakan untuk menjaga anak-anak hingga tertidur walau dengan tubuh lelah sepulang kerja kantor. Beliau tidak pernah bertanya berapa gaji saya, berapa honor yang saya terima dari menjadi pembawa acara, berapa hadiah-hadiah yang saya terima dari kemenangan lomba..... Tidak pernah sekalipun. 

Saya pun berusaha mengingat, apakah suami saya pernah marah karena kemeja yang akan dipakainya berangkat ke kantor belum disetrika?.... Tidak pernah sekalipun. Sebelum saya teringat untuk melicinkan kemejanya, suami saya sudah lebih dulu mengerjakannya sendiri. 

Mengingat semua itu, air bening mulai mengalir di pipi saya. Betapa banyaknya kemudahan yang saya dapatkan dengan menjadi pasangannya, tetapi seberapa rasa syukur yang saya panjatkan dari semua itu?....

Kemudian saya mulai mengingat-ngingat, berapa kali saya membuat masakan kesukaan suami saya tanpa diminta?... berapa kali saya berusaha untuk membuang tampang masam di hadapannya ketika tubuh letih dan pikiran penat?.......berapa kali saya tidak menggerutu apabila pesan atau telepon saya terlambat diresponnya?.... Rasanya, air bening ini semakin deras mengalir di pipi, menganak sungai dengan bebas. 

Apakah syukur itu?.... Di mana rasa itu, kenapa ia tidak mampir di hati saya?.... Pada saat saya menyadari betapa banyaknya hal yang patut saya syukuri, lalu saya bertanya.... dengan apa wujud rasa syukur itu?.... Sebentuk sujud yang paling panjang durasinya, mungkin tidaklah cukup. Syukur itu diungkapkan dengan perbuatan, bukan sekedar ucapan Alhamdulillahirabbil alamiin. . Mungkin, jika saya mampu untuk melayani suami saya dengan lebih banyak perhatian dan lebih dalam keihklasan, itulah bentuk syukur yang sepatutnya. Dengan perbuatan, rasa syukur itu akan hidup di dalam keseharian langkah. Mensyukuri hidup yang kita jalani, sekaligus menghidupkan syukur itu dalam perjalanan hidup kita. 

Ketika pasangan kita telah menunjukkan sikap yang tulus, sesungguhnya itulah wujud kasih sayang Allah SWT yang tidak terkira. Namun seringkali, rasa kurang bersyukur menutup semua pandangan dan rasa dari ketulusan yang dihadirkan. Rasa kurang bersyukur mungkin muncul dari lemahnya iman dan lebih berkuasanya nafsu duniawi. Jika kita merasa bahwa apa yang seharusnya kita dapatkan adalah sesuatu yang wajar kita dapatkan, pelan-pelan rasa kurang bersyukur itu akan tumbuh subur. Tapi ketika kita menanamkan mindset bahwa apapun yang kita peroleh adalah rahmat dari Tuhan, pemberian dengan sejuta hikmah di dalamnya, yang harus disyukuri, maka rasa syukur akan berusaha kita pelihara. Kita akan mampu menghidupkan rasa syukur apabila kita mampu menghargai setiap pemberianNya dengan harga yang tak terhingga. Begitu berharga dan tidak akan pernah bisa terbayar manusia sekaya apapun.

Sore ini, saya bisa mengatakan bahwa tiada yang lebih indah dari rasa syukur yang terus dihidupkan di dalam hati sepanjang hidup. Esok, pasti akan semakin indah ketika syukur itu hidup dalam hati saya dan saya tularkan kepada orang-orang tercinta.
Dipersembahkan
untuk suamiku tercinta, 
Erwan Julianto. 

----------------------------------------



Selasa, 02 Desember 2014

Most Wanted: Ibu Pembelajar



Kini bukan eranya lagi untuk berdebat soal apakah perempuan yang sudah menikah dan berpredikat sebagai ibu sebaiknya memilih bekerja atau tinggal di rumah?..... Bukan zamannya lagi.  Problem dilematis semacam itu sudah waktunya di garis finish.  Ibu, baik yang bekerja sekian belas jam di luar rumah maupun yang tinggal di rumah, memiliki tanggung jawab yang sama untuk pengasuhan anak.  Asisten rumah tangga, baby sitter, ataupun ibu pengganti adalah salah satu item dalam  supporting system, bukan penanggung jawab.  Ibu, tetap yang pegang peranan.  Saat ini, yang lebih urgent adalah bagaimana agar para ibu sadar pentingnya menjadi manusia pembelajar sebagai modal untuk pengasuhan anak-anak di zaman yang terus berubah.  Ibu manapun, baik yang berkarier di kantor atau tinggal di rumah, jika tidak bersedia menjadi manusia pembelajar, akan aus dilindas zaman.  Anak-anak, akan menjadi korbannya.

Kenapa harus jadi ibu pembelajar? Karena pengasuhan anak adalah hal yang unik, dinamis, dan unpredictable. Unik, karena tiap anak adalah pribadi yang khas, sekalipun mereka kembar identik. Keunikan genetis yang diwariskan pun dapat sangat beragam, yang kadang tak pernah kita bayangkan. Dinamis, karena zaman terus berubah.  Zaman kita kecil, tidak akan pernah sama dengan zaman ketika anak-anak kita dibesarkan. Jika saat masa kecil kita sudah cukup senang dengan hadiah kelereng, dakon,  dan bola bekel lengkap dengan bijinya, hal yang sama tidak mungkin terjadi pada generasi masa kini.  Unpredictable, karena memang hidup ini selalu penuh dengan kejutan. Semua ibu harus siap dengan kejutan kejutan yang manis ataupun sebaliknya, getir menggigit. Jadi,dalam hal ini,  menjadi pembelajar menurut saya adalah sebuah keniscayaan.  Harus.  Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka.

Apa sih manusia pembelajar?..... Andrias Harefa  dalam bukunya “ Menjadi Manusia Pembelajar”  (Penerbit Buku Kompas, 2000; hlm.30-31) menuliskan bahwa manusia pembelajar adalah manusia yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting.  Pertama  berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti: Siapakah aku ini?; Dari mana aku datang?; Kemanakah aku akan pergi?; Apa yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?; dan Kepada siapa aku percaya? Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang “bukan dirinya”.

Untuk menjadi manusia pembelajar, setiap ibu dengan segenap potensinya akan berusaha untuk menjadi dirinya sendiri dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.  Dengan segenap kemampuannya, ibu pembelajar selalu berusaha menyerap informasi dan menyaringnya sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan dirinya.  Ibu pembelajar tahu betapa penting untuk tetap percaya diri dan menerapkan sistem yang dibangunnya sendiri bersama pasangan dalam mengawal anak-anak dalam dunia penuh dinamika. Untuk menjadi pembelajar, ibu butuh dukungan pasangan. 

Menjadi ibu, adalah anugerah indah sekaligus ujian kesabaran tanpa ujung.  Satu paket. Anugerah indah, karena saat menyadari adanya kehidupan baru di dalam rahim, perempuan manapun merasa sangat berharga karena dipercaya Yang Kuasa untuk sebuah amanah sepanjang hidup.  Kesabaran tanpa ujung, karena ketika bayi yang dikandung itu lahir ke dunia -bersama lengking tangisnya- berbaris tanpa jeda tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan terhadapnya.  Satu paket itu anugerah dan kesabaran.  Satu paket itu yang bakal mengawal ibu (bersama pasangan) mewarnai anak-anak dengan pembelajaran positif agar kelak mereka menjadi insan yang bermanfaat.

Bagaimana untuk menjadi ibu pembelajar?.... 

Bagi ibu yang full di rumah, jangan merasa puas dan bangga dengan hanya selalu dapat mendampingi anak sepanjang waktu.  Itu tidak cukup.  Buka mata, hati, dan pikiran dengan apa isi kegiatan anak. Terjun dan menyelam bersamanya.   Tidak paham?..... Belajar memahami.  Bagaimana caranya?.... Jadikan diri kita sahabat anak-anak.  Terjunkan jiwa kita ke dalam dimensi mereka.  Itu hanya dapat dilakukan jika kita membuka diri untuk menjadi pembelajar.  Tidak ada artinya secara fisik kehadiran ibu sepanjang waktu dengan anak, jika tidak disertai dengan pemahaman dan support  dalam bentuk “jiwa dan aura” kepada anak-anak. 

Bagi ibu yang bekerja di luar rumah, siapkan mental baja, dan fisik prima.  Perlu usaha lebih untuk menjadi dekat dan bersahabat dengan anak-anak. Tapi bukan berarti tidak bisa. Selalu bersyukur dan mewujudkan syukur itu dengan membuka diri untuk terus belajar adalah yang utama. Belajar memahami perasaan anak-anak, belajar memposisikan diri sebagai anak-anak, berempati terhadap psikologis anak, adalah HARUS.   Mungkin, ibu bekerja punya banyak kelebihan dengan akses informasi dan keluasan hubungan sosial.  Tapi titik lemah ada di keterbatasan waktu dan pertemuan fisik dengan anak.  Manfaatkan teknologi untuk pembelajaran.  Satu kelemahan dapat menjadi pemicu untuk upgrading, sementara satu kelebihan bisa dimanfaatkan sebagai supporting. 


Sekarang, tidak ada pilihan lain bagi ibu selain menjadi ibu pembelajar.  Cukupkan debat dan saling gugat tentang ibu bekerja dan ibu di rumah.  Tidak pantas saling menuding siapa yang lebih mulia.  Dua-duanya sama-sama tidak ada maknanya jika ibu berhenti menjadi manusia pembelajar. The most wanted is never ending learner moms. Setuju?...

Profesionalisme Terintegrasi Seorang Ibu: Ini Versi Saya

Profesional bukan cuma buat jenis-jenis pekerjaan di ranah publik. Menjadi ibu yang berkiprah di ranah domestik maupun di ranah pu...